Jumat, 05 Maret 2010

Bijak Padanya ?

Kita semua mengetahui bahwa air merupakan salah satu komponen utama kehidupan ini. Manusia pada jaman prasejarah, yang hidup nomaden kerap memilih tinggal di sisi sungai atau danau. Saat manusia mulai menetap dan tinggal di suatu tempat, pinggir sungai jadi pilihan utama, peradaban manusia dimulai di tempat - tempat di tepian sungai. Peradaban Mesopotamia, yang sering disebut sebagai peradaban paling awal, berada di antara aliran sungai Trigis dan Eufrat di Irak sekarang, negeri Mesir kuno sangat tergantung pada sungai Nil, India memulai peradabannya dari tepian sungai gangga. Lalu banyak kota besar dunia macam Rotterdam, London, Montreal, Paris, New York, Buenos Aires, Shanghai, Tokyo, Chicago, dan Hongkong memulai kemakmurannya dari penggunaan aliran sungai sebagai faktor penting dalam praktek lalu lintas perdagangan.

Sejak manusia memilih tinggal menetap dan tak lagi menjadi makhluk yang berburu binatang dari satu tempat ke tempat yang lainnya, bercocok tanam menjadi pilihan untuk bertahan hidup. Saat bercocok tanam iniketergantungan manusia dengan air semakin besar. Air tak lagi sekedar untuk minum, tapi juga dipakai menyiram ( mengairi) ladang dan sawah. Aliran sungai dibendung maupun disedot untuk mengairi ladang dan persawahan tersebut.

Air sungai yang kita gunakan untuk irigasi, minum, dsb sebenarnya hanya sebagian kecil air yang ada di bumi. Bagian permukaan dan perut bumisesungguhnya mengandung banyak air. Namun, 97% air di permulaan bumi adalah air laut yang rasanya asin dan tak layak untuk dikonsumsi manusia. Dari 3% itu, sebanyak 67,8 % diantaranya membeku jadi gunung es di kutub dan gletser. Sebanyak 30 % ada di perut bumi, 0,3 % muncul ke permukaan dalam bentuk sungai dan danau, dan sisanya 0,9 %.

Anda juga pasti tahu perihal siklus air. Siklus itu, merupakan fenomena alami yang menjelaskan bahwa sejatinya jumlah total debit air di bumi sejak bumi ini diciptakan relatif sama.

Anda juga bisa bayangkan dengan jumlah manusia 2010 yang diperkirakan mencapai 6,8 milyar jiwa memanfaatkan debit air di atas. bagaimanakah seharusnya saya dan anda menyikapinya ?


terinspirasi ketika penulis berlayar menyusuri sebagian sungai Musi.